Ngudi Bego™: Basis Data Terdistribusi

Mau punya buku tamu seperti ini?
Klik
Disini
Widget by: Ngudi Bego™
Tampilkan postingan dengan label Basis Data Terdistribusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Basis Data Terdistribusi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Maret 2012

Tugas Basis Data Terdistribusi






MAKALAH
BASIS DATA TERDISTRIBUSI

Sejarah Perkembangan Basis Data Terdistribusi








Oleh:
Ahmad Ngudi Pranoto
090501002






UNIVERSITAS MEGOU PAK TULANG BAWANG 
FAKULTAS MATEMATIKA dan ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
2011



BAB  I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Basis data terdistribusi (distributed database) adalah suatu basis data yang berada di bawah kendali sistem manajemen basis data (DBMS) terpusat dengan peranti penyimpanan (storage devices) yang terpisah-pisah satu dari yang lainnya. Tempat penyimpanan ini dapat berada di satu lokasi yang secara fisik berdekatan (misal: dalam satu bangunan) atau terpisah oleh jarak yang jauh dan terhubung melalui jaringan internet. Penggunaan basis data terdistribusi dapat dilakukan di server internet, intranet atau ekstranet kantor, atau di jaringan perusahaan.
Untuk menjaga agar basis data yang terdistribusi tetap up-to-date, ada dua proses untuk menjaganya, yakni replikasi dan duplikasi. Dalam replikasi, digunakan suatu perangkat lunak untuk mencari — atau lebih tepatnya melacak — perubahan yang terjadi di satu basis data. Setelah perubahan dalam satu basis data teridentifikasi dan diketahui, baru kemudian dilakukan perubahan agar semua basis data sama satu dengan yang lainnya. Proses replikasi memakan waktu yang lama dan membebani komputer karena kompleksitas prosesnya. Sementara itu, proses duplikasi tidak sama dan tidak sekompleks replikasi. Dalam proses ini, satu basis data dijadikan master, kemudian diperbanyak menjadi sejumlah duplikat. Selama proses duplikasi berlangsung, perubahan hanya boleh dilakukan pada basis data master agar data lokal tidak tertimpa.
Pengguna (user) dari sebuah basis data terdistribusi dapat mengakses basis data melalui dua jenis aplikasi, yakni
  • aplikasi local : aplikasi yang tidak memerlukan data dari tempat lain
  • aplikasi global : aplikasi dengan kebutuhan akan data dari tempat lain
Dalam proses perancangan basis data terdistribusi, harus diperhatikan aspek transparansi, yaitu interaksi user terhadap basis data merupakan interaksi dengan satu sistem secara utuh. Transparansi harus terlihat dalam dua hal, yaitu
  1. Distribusi: para pengguna harus dapat berinteraksi dengan sistem secara keseluruhan sebagai satu sistem yang utuh. Kesatuan ini harus ada pada kinerja sistem dan metode pengaksesan.
  2. Perubahan (transaksi): Setiap transaksi (penambahan, penghapusan, atau peng-update-an) harus mempertahankan integritas antara basis data yang berbeda-beda dalam satu sistem. Setiap transaksi harus dibagi ke dalam sejumlah subtransaksi, yang tiap-tiap darinya memberikan pengaruh pada keseluruhan sistem basis data
1.2  Batasan Penulisan
Penulis membataskan pada permasalahan pengertian basis data terdistribusi, sejarah perkembangan basis data terdistribusi, sejarah DBMS. Jadi makalah ini hanya mengkaji tentang permasalahan permasalahan di atas.
1.3  Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari hasil penulisan ini adalah sebagai berikut:
a.       Sebagai sumber baca’an untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah basis data terdistribusi.
b.  Dengan adanya makalah ini mahasiswa dapat mengetahui sejarah perkembangan basis data terdistribusi.
c.       Penulis lebih bisa memahami tentang sejarah perkembangan basis data terdistribusi.

1.4  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penyusunan tugas ini sebagai berikut:
a.       Sebagai syarat untuk memenuhi tugas basis data terdistribusi.
b.      Untuk di diskusikan  dengan mahasiswa untuk memecahkan masalah yang terdapat pada makalah ini.
c.     Untuk melatih penulis agar agar mempunyai inisiatif yang terampil dan kreatif dalam mengerjakan tugas.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Sejarah Perkembangan Basis Data Terdistribusi
Menurut sejarah, sistem pemrosesan basis data terbentuk setelah masa sistem pemrosesan manual dan sistem pemrosesan berkas. Sistem pemrosesan manual (berbasis kertas) merupakan bentuk pemrosesan yang menggunakan dasar berupa setumpuk rekaman yang disimpan pada rak-rak berkas. Jika suatu berkas diperlukan, berkas tersebut harus dicari pada rak-rak tersebut. Bentuk seperti ini masih banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat penerapan sistem komputer, sekelompok rekaman disimpan pada sejumlah berkas secara terpisah. Sistem yang menggunakan pendekatan seperti ini biasa disebut sistem pemrosesan berkas.
Sejak tahun 1960-an penggunaan basis data sudah digunakan untuk bidang komersial, dimana pemrosesan file-nya masih berbasis manajemen file tradisional. Perkembangan komputer yang semakin pesat diikuti dengan perkembangan perangkat lunak untuk aplikasi bisnis, sejak tahun 1970-an sampai awal tahun 1980 manajemen berbasis file tradisional berkembang menjadi manajemen basis data.
Di dalam manajemen basis data dikenal berbagai model data yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan sebuah data dalam merancang suatu basis data. Manajemen ini memungkinkan banyak user untuk mengakses data secara bersamaan sehingga fasilitas yang dimiliki oleh manajemen sudah semakin banyak yaitu fasilitas pemanipulasian data, kontrol konkurensi data, recovery data, keamanan data dan didukung dengan fasilitas komunikasi data karena manajemen ini sudah terhubung dengan suatu jaringan . Perkembangan dunia usaha semakin meningkat ditunjang dengan perkembangan komunikasi yang mempermudah organisasi atau perusahaan untuk mengakses data, sehingga mengubah manajemen basis data menjadi manajemen basis data tingkat lanjut didukung dengan fasilitas data warehousing dan fasilitas basis data berbasis web sebagai salah satu strategi organisasi dalam meningkatkan kinerja dan keuntungan organisasi.
Perkembangan teknologi basis data tidak lepas dari perkembangan teknologi komputer, baik pada perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software)nya. Perkembangan teknologi jaringan komputer dan komunikasi data merupakan salah satu penyumbang kemajuan penerapan basis data yang kemudian melahirkan sistem basis data terdistribusi. Dampak perkembangan ini tentu saja dapat dirasakan dalam kehidupan kita, seperti kemudahan untuk mengambil uang dengan fasilitas ATM yang sudah diterapkan pada sistem perbankan di Indonesia.
Perkembangan pada dunia perangkat lunak, seperti kecerdasan buatan, sistem pakar dan pemrograman berorientasi objek, juga mempengaruhi perkembangan basis data, sehingga lahirlah basis data berorientasi objek dan basis data cerdas. Tabel  berikut ini memperlihatkan perkembangan teknologi basis data.
 
Era
Perkembangan Basis Data
1960-an
 -     Sistem pemrosesan berkas
 -     DBMS
 -     Layanan informasi secara online berbasis manajemen teks
1970-an
 -     Penerapan sistem pakar pada suatu sistem pendukung pengambilan    keputusan
 -     Basis data berorientasi objek
1980-an
 -    Sistem hyperteks, yang memungkinkan untuk melihat basis data secara acak menurut suatu kunci (seperti yang diterapkan di internet)
1990-an
 -     Sistem basis data cerdas
 -     Sistem basis multimedia cerdas
                                                      
2.2 Tinjauan Sejarah DBMS
Generasi pertama DBMS didesain oleh Charles Bachman di perusahaan General Electric pada awal tahun 1960, disebut sebagai Penyimpanan Data Terintegrasi (Integrated Data Store). Dibentuk dasar untuk model data jaringan yang kemudian distandardisasi oleh Conference on Data System Languages (CODASYL). Bachman kemudian menerima ACM Turing Award (Penghargaan semacam Nobel pada ilmu komputer) di tahun 1973. Dan pada akhir 1960, IBM mengembangkan sistem manajemen informasi (Information Management System) DBMS. IMS dibentuk dari representasi data pada kerangka kerja yang disebut dengan model data hirarki. Dalam waktu yang sama, dikembangkan sistem SABRE sebagai hasil kerjasama antara IBM dengan perusahaan penerbangan Amerika. Sistem ini memungkinkan user untuk mengakses data yang sama pada jaringan komputer.
Kemudian pada tahun 1970, Edgar Codd, di Laboratorium Penelitian di San Jose, mengusulkan model data relasional. Di tahun 1980, model relasional menjadi paradigma DBMS yang paling dominan. Bahasa query SQL dikembangkan untuk basis data relasional sebagai bagian dari proyek Sistem R dari IBM. SQL distandardisasi di akhir tahun 1980, dan SQL-92 diadopsi oleh American National Standards Institute (ANSI) dan International Standards Organization (ISO). Program yang digunakan untuk eksekusi bersamaan dalam basis data disebut transaksi. User menulis programnya, dan bertanggung jawab untuk menjalankan program tersebut secara bersamaan terhadap DBMS. Pada tahun 1999, James Gray memenangkan Turing Award untuk kontribusinya pada manajemen transaksi dalam DBMS.
Pada akhir tahun 1980 dan permulaan 1990, banyak bidang sistem basis data yang dikembangkan. Penelitian pada bidang basis data meliputi bahasa query yang powerful, model data yang lengkap, dan penekanan pada dukungan analisis data yang kompleks dari semua bagian organisasi. Beberapa vendor memperluas sistemnya dengan kemampuan penyimpanan tipe data baru semisal image dan text, dan kemampuan query yang kompleks. Sistem khusus/spesial dikembangkan oleh banyak vendor untuk membuat data warehouse, mengkonsolidasi data dari beberapa basis data. Penomena yang paling menarik adalah adanya enterprise resource planning (ERP) dan management resource planning (MRP), yang menambahkan substansial layer dari fitur berorientasi pada aplikasi. Paket yang termasuk didalamnya meliputi Baan, Oracle, PeopleSoft, SAP, dan Siebel. Paket-paket ini mengidentifikasi himpunan tugas secara umum (misal manajemen inventori, perencanaan sumber daya manusia, analisis finansial) dan menyediakan aplikasi layer secara umum untuk menangani keprluan tersebut. Data disimpan dalam DBMS relasional, dan aplikasi layer dapat disesuaikan untuk perusahaan yang berbeda. Lebih jauh lagi, DBMS memasuki dunia internet.
Pada saat generasi pertama dari Web site menyimpan datanya secara eksklusif dalam file system operasi, maka saat ini DBMS dapat digunakan untuk menyimpan data yang dapat diakses melalui Web browser. Query dapat digenerate melalui form Web, dan format jawabannya menggunakan markup language semisal HTML untuk mempermudah tampilan pada browser. Semua vendor basis data menambahkan fitur ini untuk DMS mereka. Manajemen basis data mempertimbangkan pentingnya suatu data bersifat on-line, dan dapat diakses melalui jaringan komputer. Saat sekarang bidang seperti ini diwujudkan dalam basis data multimedia, video interaktif, perpustakaan digital,proyek ilmuwan seperti proyek pemetaan, proyek sistem observasi bumi milik NASA, dll






BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Databases terdistribusi sebagai berikut :
ü  Kumpulan data yang digunakan bersama yang saling berhubung secara logik tetapi tersebar secara fisik pada suatu jaringan komputer. Atau
ü  Database yang disimpan pada beberapa komputer didistribusi dalam sebuah sistem terdistribusi melalui media komunikasi seperti high speed buses atau telepone line.
Pemanfaatan basis data terdistribusi dapat memberikan manfaat bagi sistem yang mengimplementasikannya. Hal ini disebabkan oleh kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, antara lain
  • kinerja yang lebih baik karena data ditempatkan di tempat yang sesuai dengan kebutuhan dan komputer-komputer dalam sistem dapat bekerja secara paralel, sehingga pembebanan pada komputer (server) menjadi seimbang.
  • alasan ekonomis, yaitu bahwa merancang sistem yang terdiri atas jaringan komputer-komputer kecil (sederhana) dibandingkan dengan mengimplementasikan komputer tunggal yang canggih.
  • alasan modularitas, yaitu bahwa sistem-sistem yang bekerja dalam basis data terdistribusi dapat dimodifikasi, ditambah, atau dikurangi tanpa memengaruhi modul lain (sistem lain dalam basis data terdistribusi). Dengan pembagian lokasi data, jika terjadi masalah atau musibah pada sistem, tidak semua data terancam, melainkan hanya data pada tempat-tempat tertentu.
  • alasan organisasi dan otonomi pada sistem-sistem yang berpartisipasi, misalnya pada suatu kantor perusahaan, terdapat beberapa departemen. Dengan basis data terdistribusi, data-data perusahaan dapat disebar ke tiap-tiap departemen yang bertanggung jawab atasnya.
Akan tetapi, di samping kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, basis data terdistribusi juga memiliki kendala, antara lain
  • masalah kompleksitas, yaitu bukan pekerjaan yang mudah untuk membuat basis data yang tersebar terlihat sebagai satu kesatuan. Administrator basis data mempunyai tugas ekstra untuk menjaga agar basis data yang tersebar di berbagai lokasi terlihat transparan. Di samping itu, pemeliharaan sistem-sistem yang berlainan lebih kompleks ketimbang pemeliharaan sistem besar yang utuh sebagai satu kesatuan. Tingginya kompleksitas juga dapat menyebabkan pembengkakan biaya.
  • masalah desain, yaitu bahwa desain yang dibuat harus memperhatikan arsitektur komputer yang terdiri atas sistem-sistem yang terpisah, selain itu juga memperhatikan data yang difragmentasi (dipecah-pecah) ke dalam lokasi berlainan. Perubahan dari basis data terpusat menjadi terdistribusi juga menjadi masalah karena belum ada standar metodologi dalam konversi DBMS terpusat menjadi DBMS terdistribusi.
  • keamanan data, yaitu bukan hanya satu sistem yang harus diberi proteksi keamanan data, melainkan juga fragmen-fragmennya yang tersebar di berbagai lokasi, juga jalur komunikasi antarsistem.
  • kendala mempertahankan integritas karena dalam menjaga integritas sistem melalui jaringan juga dapat memakan resource yang besar dari jaringan.
3.2   Saran
a.       Dalam aplikasi sistem manajemen basis data terdistribusi (DDBMS), ada beberapa masalah (issue), yang harus diperhatikan, antara lain:
ü  Transparansi
ü  perancangan (desain)
ü  pemrosesan query
ü  manajemen transaksi arsitektur dan middleware


Rabu, 02 November 2011

Sejarah Perkembangan Basis Data Terdistribusi


Menurut sejarah, sistem pemrosesan basis data terbentuk setelah masa sistem pemrosesan manual dan sistem pemrosesan berkas. Sistem pemrosesan manual (berbasis kertas) merupakan bentuk pemrosesan yang menggunakan dasar berupa setumpuk rekaman yang disimpan pada rak-rak berkas. Jika suatu berkas diperlukan, berkas tersebut harus dicari pada rak-rak tersebut. Bentuk seperti ini masih banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat penerapan sistem komputer, sekelompok rekaman disimpan pada sejumlah berkas secara terpisah. Sistem yang menggunakan pendekatan seperti ini biasa disebut sistem pemrosesan berkas.
Sejak tahun 1960-an penggunaan basis data sudah digunakan untuk bidang komersial, dimana pemrosesan file-nya masih berbasis manajemen file tradisional. Perkembangan komputer yang semakin pesat diikuti dengan perkembangan perangkat lunak untuk aplikasi bisnis, sejak tahun 1970-an sampai awal tahun 1980 manajemen berbasis file tradisional berkembang menjadi manajemen basis data.
Di dalam manajemen basis data dikenal berbagai model data yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan sebuah data dalam merancang suatu basis data. Manajemen ini memungkinkan banyak user untuk mengakses data secara bersamaan sehingga fasilitas yang dimiliki oleh manajemen sudah semakin banyak yaitu fasilitas pemanipulasian data, kontrol konkurensi data, recovery data, keamanan data dan didukung dengan fasilitas komunikasi data karena manajemen ini sudah terhubung dengan suatu jaringan .
Perkembangan dunia usaha semakin meningkat ditunjang dengan perkembangan komunikasi yang mempermudah organisasi atau perusahaan untuk mengakses data, sehingga mengubah manajemen basis data menjadi manajemen basis data tingkat lanjut didukung dengan fasilitas data warehousing dan fasilitas basis data berbasis web sebagai salah satu strategi organisasi dalam meningkatkan kinerja dan keuntungan organisasi.
Perkembangan teknologi basis data tidak lepas dari perkembangan teknologi komputer, baik pada perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software)nya. Perkembangan teknologi jaringan komputer dan komunikasi data merupakan salah satu penyumbang kemajuan penerapan basis data yang kemudian melahirkan sistem basis data terdistribusi. Dampak perkembangan ini tentu saja dapat dirasakan dalam kehidupan kita, seperti kemudahan untuk mengambil uang dengan fasilitas ATM yang sudah diterapkan pada sistem perbankan di Indonesia.
Perkembangan pada dunia perangkat lunak, seperti kecerdasan buatan, sistem pakar dan pemrograman berorientasi objek, juga mempengaruhi perkembangan basis data, sehingga lahirlah basis data berorientasi objek dan basis data cerdas.

Tinjauan Sejarah DBMS

Generasi pertama DBMS didesain oleh Charles Bachman di perusahaan General Electric pada awal tahun 1960, disebut sebagai Penyimpanan Data Terintegrasi (Integrated Data Store). Dibentuk dasar untuk model data jaringan yang kemudian distandardisasi oleh Conference on Data System Languages (CODASYL). Bachman kemudian menerima ACM Turing Award (Penghargaan semacam Nobel pada ilmu komputer) di tahun 1973. Dan pada akhir 1960, IBM mengembangkan sistem manajemen informasi (Information Management System) DBMS. IMS dibentuk dari representasi data pada kerangka kerja yang disebut dengan model data hirarki. Dalam waktu yang sama, dikembangkan sistem SABRE sebagai hasil kerjasama antara IBM dengan perusahaan penerbangan Amerika. Sistem ini memungkinkan user untuk mengakses data yang sama pada jaringan komputer.
Kemudian pada tahun 1970, Edgar Codd, di Laboratorium Penelitian di San Jose, mengusulkan model data relasional. Di tahun 1980, model relasional menjadi paradigma DBMS yang paling dominan. Bahasa query SQL dikembangkan untuk basis data relasional sebagai bagian dari proyek Sistem R dari IBM. SQL distandardisasi di akhir tahun 1980, dan SQL-92 diadopsi oleh American National Standards Institute (ANSI) dan International Standards Organization (ISO). Program yang digunakan untuk eksekusi bersamaan dalam basis data disebut transaksi. User menulis programnya, dan bertanggung jawab untuk menjalankan program tersebut secara bersamaan terhadap DBMS. Pada tahun 1999, James Gray memenangkan Turing Award untuk kontribusinya pada manajemen transaksi dalam DBMS.
Pada akhir tahun 1980 dan permulaan 1990, banyak bidang sistem basis data yang dikembangkan. Penelitian pada bidang basis data meliputi bahasa query yang powerful, model data yang lengkap, dan penekanan pada dukungan analisis data yang kompleks dari semua bagian organisasi. Beberapa vendor memperluas sistemnya dengan kemampuan penyimpanan tipe data baru semisal image dan text, dan kemampuan query yang kompleks. Sistem khusus/spesial dikembangkan oleh banyak vendor untuk membuat data warehouse, mengkonsolidasi data dari beberapa basis data. Penomena yang paling menarik adalah adanya enterprise resource planning (ERP) dan management resource planning (MRP), yang menambahkan substansial layer dari fitur berorientasi pada aplikasi. Paket yang termasuk didalamnya meliputi Baan, Oracle, PeopleSoft, SAP, dan Siebel. Paket-paket ini mengidentifikasi himpunan tugas secara umum (misal manajemen inventori, perencanaan sumber daya manusia, analisis finansial) dan menyediakan aplikasi layer secara umum untuk menangani keprluan tersebut. Data disimpan dalam DBMS relasional, dan aplikasi layer dapat disesuaikan untuk perusahaan yang berbeda. Lebih jauh lagi, DBMS memasuki dunia internet.
Pada saat generasi pertama dari Web site menyimpan datanya secara eksklusif dalam file system operasi, maka saat ini DBMS dapat digunakan untuk menyimpan data yang dapat diakses melalui Web browser. Query dapat digenerate melalui form Web, dan format jawabannya menggunakan markup language semisal HTML untuk mempermudah tampilan pada browser. Semua vendor basis data menambahkan fitur ini untuk DMS mereka. Manajemen basis data mempertimbangkan pentingnya suatu data bersifat on-line, dan dapat diakses melalui jaringan komputer. Saat sekarang bidang seperti ini diwujudkan dalam basis data multimedia, video interaktif, perpustakaan digital,proyek ilmuwan seperti proyek pemetaan, proyek sistem observasi bumi milik NASA, dll

Sabtu, 22 Oktober 2011

Sistem Basis Data Terdistribusi


File processing/ pemrosesan berkas menggunakan prinsip setiap aplikasi memiliki data tersendiri. Hal ini mempengaruhi efisiensi dan efektivitas sehingga muncul konsep database system. Konsep ini mendasarkan pada prinsip bahwa data dibuat, disediakan dan dikelola secara terpusat. Konsep baru ini mengakibatkan program aplikasi tidak lagi tergantung pada perubahan data baik secara logical maupun fisik dan juga sebaliknya, hal ini yang disebut data independence.

Beda file processing dan database system adalah file processing merupakan kumpulan data yang dirancang untuk suatu aplikasi atau sekumpulan aplikasi yang dekat hubungannya. Sedangkan database system merupakan kumpulan data logic yang saling berhubungan, secara fisik terdistribusi dalam jaringan komputer, yang tidak tergantung dari program aplikasi sekarang maupun pada masa yang akan datang.
Adanya perkembangan pada sistem database merupakan pemikiran yang menyebabkan munculnya sistem database terdistribusi. Perkembangan pada sistem database meliputi, kebutuhan akan kapasitas data yang tersimpan semakin besar, pemrosesan data semakin kompleks, serta data dapat diakses dengan menggunakan teknologi.

Distributed Data Processing/ Pemrosesan Data Terdistribusi

Pemrosesan Terdistribusi/ Distributed Processing atau distributed computing system adalah sekumpulan peralatan pemrosesan yang saling terhubung melalui jaringan computer dan saling bekerjasama untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu.
Dimana yang dimaksud dengan pemrosesan disini adalah peralatan komputasi yang dapat mengeksekusi sendiri sebuah program.

Sekumpulan peralatan yang saling terhubung akan mendistribusikan berbagai macam hal, diantaranya adalah:
  • Processing Logic/ Pemrosesan secara logis
  • Fungsi. Beberapa fungsi sistem komputer dapat didelegasikan ke beberapa hardware atau software.
  • Data
  • .
  • Control.

Pemrosesan terdistribusi dapat dikelompokkan berdasarkan kriteria,yaitu:
1. Degree of coupling/ tingkat hubungan: Jumlah data yang saling digunakan dibandingkan dengan jumlah pemroses lokal
2. Struktur antar hubungan.
3. Kesalingtergantungan komponen-komponen. Kuat atau lemah dalam mengeksekusi proses
4. Keselarasan antar komponen.

Pemrosesan terdistribusi berkembang karena kebutuhan untuk dapat memecahkan masalah yang besar dan kompleks dengan menggunakan berbagai macam aturan devide and conquer. Alasan lain yang mendasar adalah struktur organisasi yang berubah menjadi terdistribusi.
Jadi keuntungan mengunakan pemrosesan terdistribusi adalah dapat mempermudah pemrosesan yang terjadi dalam basisdata karena pemrosesan terdistribusi merupakan pemrosesan yang saling terhubung satu sama lain melalui jaringan.
Karena perkembangan pemrosesan terdistribusi inilah maka kemudian berkembang Distributed Database System yang diharapkan akan dapat mendukung pemrosesan terdistribusi.


Dristributed Data Base System

Ditributed Database (DDB) / Basis Data Terdistribusi (BDT) adalah sekumpulan database yang saling terhubung secara logical dan secara fisik terdistribusi pada berbagai tempat melalui jaringan computer.
Ditributed Database Management System (DDBMS)/ System Manajemen BasisData Terdistribusi (SMBDT) adalah software yang mengelola BDT dan menyediakan mekanisme agar distribusi tersebut transparent di hadapan user.
Ditributed Database System (DDBMS)/ Sistem Basis Data Terdistribusi (SDBT) adalah DDB yang menggunakan DDBMS.

Dibawah ini adalah ciri-ciri untuk system yang bukan merupakan SDBT
1. Sistem yang berupa sekumpulan file.
2. Berbagai Arsitektur fisik berkait dengan system multiprosesor berikut ini:
3. Shared Memory Multiprocessor (disebut juga dengan tightly couple)

Beberapa ciri yang mendasari SBDT adalah:
  • Data disimpan pada sejumlah tempat. Setiap tempat secara logic terdiri dari processor tunggal.
  • Processor pada tempat yang berbeda tersebut dihubungkan dengan jaringan komputer.
  • SBDT bukan sekumpulan file yang berada pada berbagai tempat, tetapi sebuah database pada berbagai tempat.
  • Setiap tempat mempunyai kemampuan untuk secara mandiri memproses permintaan user yang membutuhkan akses ke data di tempat tersebut, dan juga mampu untuk memproses data yang tersimpan di tempat lain.
Beberapa keuntungan yang ditawarkan System Basis Data Terdistribusi adalah:
Pengelolaan secara transparan data terdistribusi dan replicated.
Dimana hal yang diharapkan dari transparansi pengelolaan data adalah
1. Mengurangi ketergantungan data
2. Transparansi jaringan
3. Transparansi replikasi
4. Transparansi fragmentasi
Mengacu pada struktur organisasi
Misalnya pada suatu bank, terdapat beberapa cabang. Dengan basis data terdistribusi, data-data bank dapat disebar ke tiap-tiap cabang yang bertanggung jawab atasnya.
Meningkatkan kemampuan untuk berbagi dan otonomi lokal.
Pendistribusian sistem mengizinkan sekelompok individu dalam sebuah perusahaan untuk melatih pengawasan lokal melalui data mereka sendiri. Dengan kemampuan ini dapat mengurangi ketergantungan pada pusat pemrosesan.
Meningkatkan ketersediaan data.
Pendistribusian database memungkinkan adanya penyebaran data pada database sehingga setiap atau beberapa site bisa memiliki backup data, sehingga apabila terjadi kerusakan pada site utama, database masih bisa diakses pada site yang lainnya.
Meningkatkan kehandalan
Sistem distribusi dapat terus-menerus berfungsi dalam menghadapi kegagalan dari site individu atau mata rantai komunikasi antar site.
Misal: jika site-site gagal dalam sebuah sistem distribusi, site-site lainnya dapat melanjutkan operasi jika data telah direplikasi pada beberapa site
Meningkatkan unjuk kerja.
Jika sejumlah site yang berbeda dihubungkan satu sama lain, lalu seorang pemakai yang berada pada satu site dapat mengakses data yang tersedia pada site lain.
Sebagai contoh: sistem distribusi pada sebuah bank memungkinkan seorang pemakai pada salah satu cabang dapat mengakses data cabang lain.
Memudahkan pengembangan sistem.
Sistem terdistribusi memudahkan kita dalam melakukan pengembangan terhadap sistem sebelumnya. sistem-sistem yang bekerja dalam basis data terdistribusi dapat dimodifikasi, ditambah, atau dikurangi tanpa memengaruhi modul lain (sistem lain dalam basis data terdistribusi). Dengan pembagian lokasi data, jika terjadi masalah atau musibah pada sistem, tidak semua data terancam, melainkan hanya data pada tempat-tempat tertentu.
Kerugian System Database Terdistribusi
1.Kompleksitas manajemen
Pemeliharaan sistem-sistem yang berlainan lebih kompleks ketimbang pemeliharaan sistem besar yang utuh sebagai satu kesatuan. Tingginya kompleksitas juga dapat menyebabkan pembengkakan biaya.
2. Kontrol integritas lebih sulit
Menjaga integritas sistem melalui jaringan juga dapat memakan resource yang besar dari jaringan.
4. Biaya pengembangan
Biaya pengembangan suatu system sangat besar untuk menghasilkan keluaran system yang maksimal.
5. Keamanan
Keamanan system basis data terdistribusi sangat perlu diperhatikan agar data-data penting tidak hilang.
6. Kurang standarisasi
Desain yang dibuat harus memperhatikan arsitektur komputer yang terdiri atas sistem-sistem yang terpisah, selain itu juga memperhatikan data yang difragmentasi (dipecah-pecah) ke dalam lokasi berlainan. Perubahan dari basis data terpusat menjadi terdistribusi juga menjadi masalah karena belum ada standar metodologi dalam konversi DBMS terpusat menjadi DBMS terdistribusi.
7. Menambah kebutuhan penyimpanan
Menambahkan media penyimpanan pada suatu database memerlukan biaya yang tidak murah. Apalagi kebutuhan menyimpan yang kian hari semakin bertambah banyak.
8. Lebih sulit dalam mengatur lingkungan data
Karena semakin kompleksnya dalam pemrosesan data, sehingga lebih sulit dalam mengatur lingkungan data.
9. Menambah biaya pelatihan
Untuk menghasilkan tenaga yang terampil dalam system basisdata terdistribusi, diperlukan biaya yang cukup besar dalam pelatihan tenaga terampil tersebut.